MANUSKRIP DIBUAT FORMAT DIGITAL

Sebanyak 13 manuskrip keislaman berusia lebih dari 100 tahun mulai disalin ke format digital. Format digital memungkinkan manuskrip disimpan lebih lama dengan pengakses lebih banyak.

Pembantu Rektor I IAIN Sunan Ampel Surabaya Thoha Hamin menuturkan, selama ini manuskrip tersebut lebih banyak dan lebih dahulu didigitalkan oleh orang Eropa. Mereka sadar fungsi itu sebagai salah satu sumber kajian ilmiah. Indonesia sebagai salah satu negara sumber manuskrip seharusnya melakukan juga dengan metode yang lebih baik. "Proyek ini bagian dari upaya itu," ujar Thoha di Surabaya, Senin (12/2).

Pada tahap awal, sudah diidentifikasi 13 manuskrip keislaman. Manuskrip-manuskrip itu tersebar di berbagai tempat di Indonesia. "Sebagian besar berada di pesantren dan museum di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat. Ada juga manuskrip disimpan di rumah oleh pemiliknya," katanya.

Penyimpanan pribadi itu membuat pengakses manuskrip tersebut terbatas. Padahal, kandungan informasinya bisa jadi amat penting bagi kajian ilmiah keislaman. "Pada manuskrip yang kami temukan ada informasi tentang sejarah, tauhid, fiqih, syair, hingga ilmu tata bahasa," ujar Thoha.

Ia mencontohkan, manuskrip yang ditemukan, antara lain Serat Kandhaning Ringgit Purwo (tulisan tentang wayang purwo) yang menceritakan sejarah wayang purwo dalam bahasa Jawi yang ditulis dengan aksara Arab atau pegon. "Itu manuskrip yang ditulis dengan tulisan tangan pada tahun 1315 Hijriyah atau sekitar tahun 1870-an masehi sehingga usianya mencapai 100 tahun lebih. Kami belum tahu siapa penulisnya," tuturnya.

Ketua Tim Pelatihan Digitalisasi Manuskrip M Khodafi menuturkan, proyek itu juga penting untuk menunjukkan Islam sangat menghargai perbedaan. Pada manuskrip-manuskrip itu, terbukti Islam mampu menyerap nilai lokal. "Islam di Indonesia berkembang dengan menyadap tradisi lokal," ujarnya.

Hal itu menunjukkan Islam memiliki sisi moderat yang sangat penting diketengahkan dalam paradigma keberagamaan penduduk Indonesia dewasa ini.

Proyek itu menargetkan digitalisasi 1.000 halaman manuskrip pada tahap permulaan. Para dosen dari berbagai IAIN yang ikut pelatihan diharapkan bisa membantu pelacakan manuskrip lain untuk dibuat format digitalnya. Format digital akan dimasukkan ke situs IAIN di masing- masing daerah sehingga bisa diakses oleh siapa saja.

Penting sekali meluaskan akses untuk informasi ilmiah seperti ini. Peluasan itu akan memudahkan kajian ilmiah terkait manuskrip- manuskrip ini sebagai salah satu bahan atau sumber. "Proyek ini mendapatkan kucuran dana Rp 400 juta dari Departemen Agama," ujar Khodafi.
Sumber: www.kompas.com

No comments: