MARHABAN YAA RAMADHAN 1431 H


Bulan Suci Ramadhan sudah di depan mata, bulan yang penuh keberkahan, bulan yang penuh rahmat dan bulan yang penuh ampunan.

Sudilah kiranya, membuka pintu hati tuk menerima ucapan dari kami..

"SELAMAT MENYAMBUT BULAN SUCI RAMADHAN 1431 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN"

Semoga kita semua diberi kekuatan dan keringanan dalam menjalankan ibadah puasa ini.

INFO PELATIHAN DIGITALISASI NASKAH NUSANTARA

Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) kembali mengadakan Pelatihan Digitalisasi Naskah Nusantara, Kamis-Sabtu (18-20/3) di Gedung PPIM UIN Jakarta.

Adapun tenaga pelatih kegiatan ini kerja sama dengan Leipzig University Jerman, The Brisith Library Inggris, Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) Jepang, Southeast Asian Digital Library di Northern Illinois University (NIU), serta tenaga ahli dari Manassa dan Perpustakaan Nasional Jakarta. Selain itu, sebuah materi umum tentang preservasi naskah juga akan disampaikan oleh narasumber ahli, Dr. Manfred Anders, Managing Director di Zentrum fuer Bucherhaltung, Jerman.

Pendaftaran dibuka hingga Rabu, 10 Maret 2010 dengan kontribusi peserta sebesar Rp. 500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dibayarkan melalui transfer ke rekening Manassa di Bank BNI Cabang UI Depok, dengan nomor rekening 0162-1397-10 atas nama Amyrna Leandra Saleh (Bendahara Umum Manassa). Bukti transfer dapat difaks ke nomor (021) 787-2603.


Informasi selengkapnya bisa dilihat di:
http://www.manassa. org/main/ sb/index. php?detail= 20100216191753,

WORKSHOP DIGITALISASI NASKAH DAN PENGEMBANGAN PORTAL NASKAH NUSANTARA

“Hilang dan rusaknya hutan masih bisa dilakukan reboisasi yang hasilnya bisa tampak dalam jangka 10-20 tahun kedepan. Namun, tidaklah demikian dengan naskah. Naskah tidak akan kembali jika telah rusak dan hancur jika tidak ada usaha penyelamatan dan pelestarian saat naskah tersebut masih dalam kondisi baik,”.


Lembar perlembar naskah itu dibuka, sesekali sang fotografer dengan sangat hati-hati memposisikan kamera yang sudah siap untuk memotret naskah melalui laptop. Tidak lupa perlengkapan ala ‘dokter’ pun yaitu sarung tangan dan masker dipakainya. Begitulah gambaran yang terjadi dalam upaya penyelamatan naskah nusantara melalui digitalisasi naskah dalam Workshop Digitalisasi Naskah dan Pengembangan Portal Naskah Nusantara, Rabu – Sabtu, (24-27/6) di Hotel Sahid Jaya, Solo-Jawa Tengah, hasil kerjasama Puslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Depag RI dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA).
“Target peserta yang hadir dalam workshop ini sebenarnya ditentukan 60 orang, namun yang hadir mencapai 75 orang. Jumlah ini belum dihitung dengan puluhan orang yang ditolak panitia lantaran keterbatasan tempat yang ada,” lapor Muchlis, Ketua Panitia.
Acara dibagi dalam beberapa sesi, yaitu penyajian makalah dari beberapa pembicara yang mempunyai kepedulian terhadap pernaskahan nusantara. Diantaranya, dalam sesi pertama membahas strategi dan kebijakan dalam program pernaskahan nusantara, khususnya dalam hal konservasi dan digitalisasi. Presentasi pertama disampaikan oleh Maidir Harun (Kapuslitbang Lektur Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat, Depag RI) mengenai kebijakan Puslitbang Lektur Keagamaan dalam program pernaskahan nusantara, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan kebijakan Perpusnas dalam digitalisasi dan konservasi naskah nusantara, Muhammadin Razak (Kepala Bagian Preservasi Perpusnas RI), Tuty Hendrawati (staf bagian Digitalisasi Perpusnas RI).
Sesi kedua mengetengahkan pembahasan proyek digitalisasi untuk kepentingan riset. Dalam sesi ini, John Paterson dari Yayasan Sastra Solo menampilan makalah Proyek Digitalisasi Naskah-Naskah Jawa Koleksi Yayasan Sastra Solo. Sementara itu Digitaisasi Naskah dan Penguatan Tradisi Riset disampaikan oleh Oman Fathurahman (Ketua Umum Manassa).
Selanjutnya, Thoralf Hanstein, Jens Kupferschmidt, Joerg Graf dari Leipzig University Jerman membahas seputar katalogisasi dan digitalisasi naskah kaitannya dengan teknologi informasi berstandar internasional serta contoh proyek naskah dan papyrus di Leipzig University. Sesi ini menunjukkan berbagai pertunjukan kebolehan penggunaan berbagai alat-alat pendukung digitalisasi, baik yang didatangkan dari Jerman maupun yang dimiliki oleh Puslitbang Lektur Keagamaan.
Tidak kalah menariknya dalam sesi berbagi pengalaman dengan pembicara yang sudah melakukan usaha digitalisasi naskah nusantara kerjasama dengan The British Library.
Proyek Digitalisasi Naskah-Naskah Pesantren MIPES (2007) yang dibawakan oleh Jeje Abd Rojak; Digitalisasi Naskah Koleksi Masyarakat Pidie, Aceh (2008) oleh Fakhriati. Sementara itu Mohammad Solihin, Fotografer dan Image Editor Digitalisasi Naskah-Naskah Pesantren MIPES (2007); Bahren, Koordinator Fotografi Program Digitalisasi Naskah Surau Minangkabau (2006); Salman Abdul Muthallib, Anggota Tim Kodikologi Program Digitalisasi Naskah Museum Aceh dan YPAH dengan Leipzig University (2007-2009); dan Hasnul Arifin Melayu, Anggota Tim Digitalisasi dan Katalogisasi Naskah Koleksi YPAH dengan C-DATS Tokyo University of Foreign Studies (2005-2006). Sayangnya, dalam pelatihan ini, mesin scanner dari Leipzig University yang merupakan salah satu alat digitalisasi naskah mutakhir yang sedianya akan dibawa dari Aceh untuk ditunjukkan kepada peserta dalam pelatihan ini gagal dibawa, karena sesuatu hal. (Mohammad Solihin).
Foto-foto kegiatan bisa di lihat DI SINI

Pelatihan Digitalisasi Naskah dan Pengembangan Portal Naskah Nusantara

Penjelasan Program dan Signifikansinya

Berdasarkan hasil penelitian yang pernah dilakukan, diketahui bahwa naskah-naskah tertulis (manuscripts) Nusantara terdapat dalam jumlah yang sangat besar, mencapai angka puluhan ribu, baik yang tersimpan di dalam maupun di luar negeri. Naskah-naskah tersebut ditulis dalam berbagai bahasa, seperti Arab, Melayu, Jawa, Sunda, Sasak, Bali, Wolio, dan lain-lain.

Kandungan isi naskah-naskah tersebut tidak terbatas pada kesusastraan belaka, melainkan mencakup berbagai bidang pengetahuan, seperti agama, khususnya Islam, sejarah, hukum, adat istiadat, obat-obatan, teknologi, dan lain-lain. Umumnya, naskah-naskah yang kita jumpai saat ini berasal dari abad ke-18 hingga 20.

Kini, sebagian dari naskah-naskah tersebut memang telah tersimpan dengan baik di sejumlah perpustakaan atau museum, tapi sebagian lagi masih tercecer dalam koleksi pribadi masyarakat yang kebanyakan aksesnya tertutup bagi orang lain, atau setidaknya sulit, baik karena dianggap sebagai benda keramat maupun properti pribadi.

Mengingat bahan kertasnya yang rentan, dan usianya yang telah mencapai ratusan tahun, maka pada umumnya kondisi fisik naskah-naskah tersebut sangat mengkhawatirkan, sehingga jika tidak segera dilakukan upaya-upaya pemeliharaan (preservasi), bukan tidak mungkin kalau suatu saat naskah-naskah berserta kandungan pengetahuan yang terdapat di dalamnya itu hilang dimakan zaman.

Pemeliharaan naskah sendiri dapat dikategorikan menjadi dua jenis: pertama, pemeliharaan fisik naskahnya; dan kedua, pemeliharaan teks-teks yang terdapat di dalamnya. Jenis pemeliharaan model pertama dapat dilakukan melalui restorasi, yakni merawat dan mengembalikan keutuhan kertas dan jilidannya sehingga diharapkan bisa bertahan lebih lama.

Adapun jenis pemeliharaan kedua adalah berupaya melestarikan teks-teks yang terkandung di dalamnya melalui pembuatan salinan (backup) dalam media lain, sehingga paling tidak kandungan isi khazanah naskah itu tetap dapat dilestarikan meskipun seandainya fisik naskahnya musnah akibat rusak atau bencana.

Pada masa lalu, hingga tahun 80-an, pembuatan salinan teks-teks tersebut dilakukan melalui teknologi mikrofilm. Akan tetapi, saat ini, teknologi tersebut jelas sudah tidak tepat lagi digunakan. Bahkan, teknologi mikrofilm terbukti telah tidak efisien lagi dalam hal pemanfaatannya oleh para pembaca.

Kini, pilihan yang paling mungkin adalah memanfaatkan teknologi digital, baik dalam bentuk kamera maupun mesin scanner. Melalui teknologi digitalisasi ini, kandungan isi puluhan ribu naskah akan dapat dibuatkan salinannya, sebagai cadangan jika naskah aslinya sudah tidak dapat dipergunakan lagi.

Yang menjadi tantangan adalah belum banyak tersedianya tenaga-tenaga yang memiliki keterampilan melakukan digitalisasi naskah secara profesional, dan sekaligus mengelolanya dalam sebuah portal naskah Nusantara, padahal, jika portal naskah Nusantara tersebut bisa terwujud, maka akan banyak pihak-pihak yang dapat merasakan manfaatnya untuk berbagai penelitian, termasuk penelitian masalah-masalah keagamaan.

Untuk itulah, Puslitbang Lektur Keagamaan, Depag RI, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) berinisiatif menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Digitalisasi Naskah dan Pengembangan Portal Naskah Nusantara. Dalam pelaksanaan program ini, Manassa Pusat melibatkan teman-teman dari Manassa Cabang Solo.


Tujuan

Secara umum, pelatihan ini bertujuan untuk:

a. Mensosialisasikan pentingnya pemeliharaan naskah-naskah tertulis (manuscritps) Nusantara;

b. Memperluas wawasan pengetahuan tentang digitalisasi naskah dan pengembangan perpustakaan digital.

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:

a. Melatih peserta agar memiliki keterampilan praktik digitalisasi naskah tulisan tangan (manuscripts) Nusantara;

b. Melatih peserta agar mampu mengelola teks-teks digital menjadi sebuah koleksi perpustakaan naskah digital yang bersifat online.

Sebagai bagian dari upaya mencapai tujuan di atas, Pelatihan ini juga akan mensosialisasikan sebuah open source software untuk mengelola portal naskah Nusantara, yang disiapkan oleh tim ahli dari Leipzig University.


Waktu dan Tempat Kegiatan

Pelatihan ini akan diselenggarakan pada tanggal 24-27 Juni 2009 di Hotel Sahid Jaya, Solo.


Narasumber

Narasumber Pelatihan ini melibatkan para praktisi di bidang digitalisasi naskah, dari luar negeri, yakni: Dr. Thoralf Hanstein (Kepala Program digitalisasi Naskah Nusantara, Leipzig University); Ir. Jens Kupferschmidt (Ahli Informatika dan Komputer, Leipzig University); Joerg Graf (Ahli Restorasi, Leipzig University); Johns Paterson (Konsultan digitalisasi naskah Jawa) di Yayasan Sastra Solo); dan para pakar pernaskahan dari dalam negeri.


Kriteria Peserta

Peserta Pelatihan ini berasal dari berbagai daerah yang dipilih berdasarkan sejumlah kriteria yang ditentukan, yaitu:

a. Memiliki pengetahuan dasar tentang khazanah naskah Nusantara;

b. Memiliki pengetahuan dasar teknologi fotografi dan internet;

c. Memiliki akses yang baik terhadap koleksi naskah di daerah asalnya, baik koleksi pribadi maupun koleksi lembaga;

d. Memiliki visi untuk mengembangkan perpustakaan digital naskah Nusantara;

e. Diutamakan telah, sedang, atau berencana menyelenggarakan program digitalisasi naskah di daerah asalnya;

f. Belum pernah mengikuti diklat pernaskahan yang diselenggarakan oleh Depag (Panitia bisa memberikan pertimbangan khusus jika ada alasan kuat keikutsertaaan seorang peserta)


Target dan Sasaran

Target utama Kegiatan Pelatihan ini, antara lain, adalah:

a. Terhimpunnya sejumlah peserta yang memiliki wawasan dan keterampilan tentang tata cara digitalisasi naskah yang berstandar internasional;

b. Terhimpunnya sejumlah peserta yang mampu menjalankan program pengembangan perpustakaan naskah digital;

c. Terkoordinasinya kegiatan digitalisasi naskah Nusantara melalui Portal Naskah Nusantara yang akan dikelola oleh Manassa.


Biaya Keikutsertaan

Semua biaya keikutsertaan peserta akan ditanggung oleh Panitia, dengan catatan penggunaan tiket pesawat ekonomi.


Penutup

Demikian, mudah-mudahan kegiatan ini bisa berlangsung dengan lancar dan sukses sehingga bisa melahirkan tenaga-tenaga terampil sekaligus profesional dalam bidang digitalisasi naskah dan pengelolaan portal naskah Nusantara. Harapannya, di masa depan naskah-naskah Nusantara bisa terselamatkan dan para peneliti naskah Nusantara bisa dengan mudah mengakses dengan mudah bahan-bahan penelitiannya yang berupa naskah.

Semoga.
Sumber: http://manassa.org/main/berita/index.php?detail=20090518182633

NASKAH KUNO DIGITALISASI, DITARGETKAN 9000 NASKAH BISA DIKERJAKAN

Sebanyak 9.000 naskah kuno koleksi Perpustakaan Nasional yang bernilai sejarah tinggi akan diubah ke dalam bentuk digital sehingga naskah asli bisa terhindar dari kerusakan. Namun, dari koleksi sebanyak itu, baru 315 judul naskah yang telah ditransformasi dalam bentuk digital.

Tidak semua naskah kuno atau manuskrip dapat ditransformasi ke dalam bentuk digital karena ada yang berbentuk benda-benda tertentu, misalnya aksara yang terukir di benda.

”Koleksi Perpustakaan Nasional sekitar 10.000 naskah kuno, sedangkan yang dapat ditransformasi digital sekitar 9.000 naskah, yakni naskah berbentuk lembaran,” ujar Kepala Perpustakaan Nasional Dady Rachmananta, Kamis (9/10) di Jakarta.

Transformasi digital tersebut sangat penting mengingat usia naskah sebagian besar sangat tua dan fisiknya ada yang sudah rusak. Perubahan ke bentuk digital diutamakan untuk naskah yang fisiknya sudah parah kondisinya. Koleksi naskah Perpustakaan Nasional ada yang dari tahun 1200-an atau sudah berumur lebih dari 800 tahun.

”Kalau naskah masih sering dibuka-buka dan tersentuh akan cepat hancur. Sekarang ini tidak sembarangan orang dapat memegang secara langsung karena fisiknya harus dilindungi. Dengan adanya bentuk digital, siapa pun dapat mengakses, sedangkan naskah tetap lestari,” ujarnya. Pada tahun 2008, anggaran transformasi digital sebesar Rp 650 juta.

Naskah yang telah dialihkan ke bentuk digital sangat beragam dan berasal dari berbagai daerah. Naskah yang terbilang sangat penting, misalnya, Nagarakretagama, Ila Galigo, dan Babad Tanah Jawi.

Terbesar

Koleksi Perpustakaan Nasional termasuk yang memiliki koleksi terbesar di Asia Tenggara.

Menurut Kepala Bidang Digital Perpustakaan Nasional, Joko Prasetyo, selain melakukan digitalisasi naskah kuno, Perpustakaan Nasional juga mendigitalkan buku langka sebanyak 2.500 judul, majalah langka 1.700 judul, 3.000 foto koleksi IPPHOS, peta kuno sebanyak 1.300 lembar, serta beragam koleksi lainnya.

Untuk buku, yang telah didigitalisasikan masih terbatas, yakni yang sudah lewat hak ciptanya selama 50 tahun.

Semua hasil digitalisasi ini, lanjut Dady, nantinya akan ditampilkan sehingga bisa diakses oleh publik. Untuk abstraknya seperti halaman judul, ilustrasi, dan kulit muka dapat diakses melalui internet. Namun, untuk membaca teks penuh harus datang dan mengakses lewat fasilitas multimedia di Perpustakaan Nasional.

Harapannya, dengan transformasi ke bentuk digital, masyarakat lebih mudah memanfaatkannya. Selain itu, jika masyarakat mengenal koleksi-koleksi tersebut diharapkan timbul kepedulian dan rasa memiliki.

Sumber: Kompas